Ibuku yang Mualaf dan Keluargaku yang “Gado-Gado”

Selamat Natal! Semoga Kasih Tuhan Beserta Kita, Tuhan memberkati.

Kakek dari Ibuk, seorang katholik yang taat. Begitu juga nenek beberapa tahun lalu, sebelum akhirnya kembali masuk islam dan pergi haji.

Begitu juga dengan ibuk, sebelum tahun 1986 dan menikah dengan Bapak.

Ibuk, berasal dari Wuryantoro, Wonogiri. Daerah terpencil di tengah bebatuan, hutan dan gunung kapur di pinggir waduk Gajah mungkur.

Menurut cerita keluarga, Wonogiri 20-30 tahun yang lalu adalah salah satu basis penyebaran agama katholik di gunung kidul dan sekitarnya.

Wajar saja, jika ibu sekeluarga adalah umat katholik yang taat. Bahkan di kala SMA dulu, ibu tinggal di asrama bersama para biarawati, bukan indekos.

Semua berubah saat ibuk bertemu Bapak di UNNES. Bapak di mata ibuk selalu istimewa. Berwibawa, sabar, seorang yang cerdas. Pemimpin: Ketua HIMA Fisika.

Walau bapak sendiri bukan berasal dari keluarga berada. Untuk bayar sekolah saja mesti membantu kakaknya jualan beras. Sepatu Nike baginya saat itu merupakan barang yang sangat mewah. Perlu setahun untuk membelinya.

Pertemuan pertama bapak dan ibu tidaklah mulus. Bahkan ibuk menjilat ludahnya sendiri.

“Walah, mosok masih muda namanya Hadi? Kayak nama orang tua aja, hahaha”.  Itu kata yang pernah terucap di awal pertemuan ibuk dengan bapak.

Ibuk, seleksi dan koleksi, kalau tak mau disebut playgirl. Begitu prinsipnya. Nggak cocok, tinggal putus ganti yang lain. Biar nggak madesu (masa depan suram), katanya.

image
Ibuk (kiri) adek (kanan), begitu mirip. Begitu juga aku dengan bapak

Sementara Bapak, pemuda miskin anak pejuang kemerdekaan dari kampung bernama Magelang. Suatu kota yang mungkin saja tak kan terkenal kalau tak ada Borobudur di sana.

Bapak yang lurus, apa adanya, tidak neko-neko, sungguh-sungguh, humoris, sabar dan cerdiklah yang pada akhirnya meluluhkan hati ibuk yang jutek, galak, cerewet dan banyak penggemar.

Gengsi keduanya sama-sama tinggi.

Pernah suatu ketika, Bapak lewat depan kosan ibuk.

Ibuk seperti biasa, dengan jutek berkata “Mau apa ke sini ?”, Bapak cuma senyum dan menjawab “Ya, gak apa-apa toh? Kalau-kalau kamu kangen sama aku (akunya di sini).” Hahaha, Pak…Pak.. Nurun persis ke anak lanang. Aku memang anakmu.

Gara-gara bapak, ibuk jadi jarang ke gereja bahkan tertarik belajar solat dan puasa.

Pertama puasa, ibuk ndak kuat. Puasa bedug. Bapak dengan sabar dan telaten menunggu ibuk sampai kenyang dan makan siang dari uang yang ia kumpulkan.

Begitulah sekelumit perjuangan Bapak. Sampai akhirnya mereka berdua menikah secara adat jawa dan islam di Wuryantoro, rumah ibuk.

Itulah yang membuat keluarga besar kami begitu berwarna. Saat natal semua sibuk saling berkirim ucapan, bertukar kado bahkan ikut menghias pohon natal.

Saat lebaran tiba, memasak ketupat opor dan makan bersama. Meramaikan takbiran, ikut tradisi sungkeman dan berbagi THR.

Sambil mengetik sekarang pun, aku sedang merangkai ucapan natal untuk keluarga om ku yang ada di Surabaya dan keluarga Pakdhe yang tinggal di Jogja.

Begitu indah. Bhinekka tunggal ika. Itulah keluarga kami, di mana ada banyak perbedaan dan tetap saling menghormati.

Akhir kata, selamat Natal bagi teman-teman yang merayakan! Shallom!

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s